Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

0
2

Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning
Polda Sumsel saatbmenangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau dengan metode spiral dan scanning (Foto: Dokumentasi/Humas Polri)Tangani Karhutla 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

Muara Enim – Polda Sumsel menangani karhutla gambut seluas sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau. Pemadaman dilakukan dengan metode spiral dan scanning untuk memburu bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol memimpin penanganan bersama personel Satgas Karhutla. Kondisi gambut sedalam satu hingga satu setengah meter membuat bara dapat merambat tanpa terlihat.

“Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi pergerakan bara di bawah tanah,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.

Metode tersebut dimulai dengan penyiraman dari bagian luar area menuju titik kebakaran di bagian dalam. Personel menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri selama proses pemadaman.

Setelah penyiraman, tim membiarkan cairan meresap ke lapisan gambut selama sekitar dua hingga tiga jam. Personel kemudian melakukan scanning untuk menemukan sisa bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.

“Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering. Setelah perendaman, personel melakukan scanning terhadap titik bara,” katanya.

Petugas mendatangi lokasi dengan tanda asap putih maupun bara yang masih terlihat. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan garpu sebelum disiram memakai jet shooter backpack.

Penanganan dibuat lebih terukur dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga klaster berdasarkan aktivitas kebakaran. Pembagian tersebut terdiri atas zona kuning, oranye, dan merah.

Zona kuning menunjukkan keberadaan asap, sedangkan zona oranye memiliki asap sekaligus bara. Zona merah menunjukkan keberadaan asap, bara, serta api yang muncul hingga permukaan.

Masing-masing klaster kembali dibagi menjadi empat sektor dengan personel penanggung jawab. Pembagian tersebut memudahkan perkembangan pemadaman dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

Pemadaman tetap dilanjutkan pada malam hari untuk mencari bara yang masih aktif. Kondisi gelap justru membantu personel melihat bara di sela permukaan gambut dengan lebih jelas.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penanganan tidak cukup hanya memadamkan permukaan. Bara yang tersimpan di lapisan gambut juga menjadi perhatian utama petugas.

“Perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang tersimpan di lapisan gambut. Karena itu penanganan dilakukan secara berlapis,” ujarnya.

Tahapan tersebut mencakup penyiraman, perendaman, hingga scanning terhadap setiap titik bara yang masih tersisa. Langkah itu ditujukan mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke kawasan lainnya.

Polda Sumsel bersama unsur terkait terus mengoptimalkan personel dan sarana prasarana di lapangan. Pemadaman dilakukan bertahap hingga seluruh kawasan dinyatakan aman dari api dan potensi bara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini